Kamis, 06 November 2025

MIMBAR MUHASABAH : MAKNA BIAS SEMOGA SAMAWA

 


Kebumen - MPK : Semoga samawa atau semoga menjadi keluarga samawa, ucapan ini sering kali kita dengar ketika teman atau saudara kita baru saja melangsungkan sebuah pernikahan. Ucapan semoga samawa mengandung maksud sebuah untaian do’a untuk mempelai berdua semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa-rohmah. Ucapan ini sudah begitu akrab di telinga kita sehingga seakan ucapan ini benar adanya dan sesuai dengan kaidah agama. Padahal Rosululloh SAW tidak pernah mengajarkan do’a seperti itu kepada umatnya, melainkan Rosululloh SAW mengajarkan ucapan do’a pada umatnya untuk mempelai berdua barokallohu laka wa baroka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khoir. Lalu apa sebenarnya sakinah, mawaddah dan wa-rohmah itu, dan kenapa kita singkat dengan samawa sebagai ucapan do’a ?.

Ungkapan kata sakinah, mawaddah wa-rohmah kita ketahui termaktub dalam al-Qur’an surat ar-Rum ayat 21. Namun sesungguhnya kata sakinah juga termaktub dalam surat al-Fath ayat 4, surat al-Baqoroh ayat 248, surat at-Taubah ayat 26 dan beberapa surat lain dalam al-Qur’an. Dari kata sakinah pada beberapa ayat tersebut mengisyaratkan bahwa sakinah adalah milik Alloh SWT, ciptaan dan pemberian Alloh SWT semata, bukan buatan rekodoyo manusia atau mahluk lainnya. Begitupun dalam surat ar-Rum ayat 21, dimana ayat ini diawali dengan kata kholaqo sebelum kata sakinah, yang mengandung maksud bahwa dipertemukannya jodoh atau pasangan manusia dari jenis manusia itu sendiri karena adanya rasa sakinah atau condong, tentram, ayem yang telah Alloh SWT ciptakan. Rasa sakinah atau condongtentram, ayem ini kemudian Alloh SWT sematkan dalam hati kedua insan manusia, sehingga mereka saling condong satu sama lainnya sebagai pasangan yang telah Alloh SWT tentukan. Jadi ketika pasangan sampai ke pelaminan atau setelah terjadinya pernikahan, mereka sesungguhnya sudah dibekali rasa sakinah oleh Alloh SWT. Maka dari itu Rosululloh SAW mengajarkan do’a barokalloh untuk kedua mempelai yang berarti ziyadatul khoir atau tambah bertambah kebaikannya, tambah bertambah rasa condongnya, tambah bertambah rasa tentramnya dan tambah bertambah rasa ayemnya. Dengan kata lain, sakinah merupakan bibit pemberian dari Alloh SWT yang telah ditanamkan dalam hati kedua mempelai, maka tugas utama mempelai berdua adalah menumbuh kembangkan rasa sakinah itu seiring dengan berjalannya waktu.

Sedangkan kata mawaddah dan wa-rohmah dalam surat ar-Rum ayat 21 diawali dengan kata ja’ala, yang secara maknawiyah sama dengan kholaqo yaitu artinya menjadikan. Namun perlu diketahui, bahwa penggunaan kata kholaqo dilihat dari aspek penciptaan, menekankan otoritas dan kekuasaan Alloh SWT dalam menciptakan sesuatu yang baru. Dan hal ini menujukkan bahwa Alloh SWT tidak membutuhkan bantuan siapapun dalam menciptakan sesuatu. Sedangkan penggunakan kata ja’ala dilihat dari aspek penciptaan, menekankan keterlibatan manusia dalam prosesnya atau hasil dari perubahan menjadi sesuatu yang baru. Kata ja’ala dalam ayat ini menunjukkan bahwa Alloh SWT menciptakan suatu resep atau formula, sedangkan yang mengelola menjadikan sesuatu yang baru tergantung pada usaha manusia atau mempelai berdua. Sakinah akan tumbuh dan berkembang dengan mawaddah dan wa-rohmah yaitu sebuah resep atau formula yang telah Alloh SWT ciptakan untuk mempelai berdua, dalam usaha untuk menjaga dan menumbuh kembangkan rasa sakinah. Ibarat Alloh SWT menciptakan bodin lengkap dengan unsur-unsur yang ada didalamnya adalah kholaqo, sedangkan dari unsur-unsur yang terkandung di dalam bodin, manusia kemudian bisa menjadikan sesuatu yang baru, berupa gethuk, usel dan lain sebagainya, ini adalah ja’ala. Jadi rasa sakinah yang telah Alloh SWT sematkan dalam hati kedua mempelai, agar tumbuh subur dan berkembang dengan baik seiring dengan berjalannya waktu, Alloh SWT juga memberikan resep atau formula berupa mawaddah dan wa-rohmah sebagai pupuk untuk menumbuh kembangkan rasa sakinah itu sendiri, hal ini tentu tergantung dari usaha kedua mempelai dalam mewujudkannya. Wallohu ‘Aklam

 

Written by ARCH

Rabu, 05 November 2025

MIMBAR OPINI : PENYULUH AGAMA MODERAT DI ERA DIGITAL

 


Kebumen – MPK : Di tengah derasnya arus informasi digital, seorang Muslim dituntut untuk bijak, adil, dan moderat atau wasathiyah dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Moderasi beragama bukan berarti lemah dalam keyakinan, tetapi teguh di tengah dan adil di antara dua ekstrem : tidak berlebihan dan tidak pula meremehkan. Alloh SWT telah memberi isyarat pada kita dalam al Qur’an surat al Baqoroh ayat 143 yang artinya “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia.” Ayat ini menjadi landasan konsep bahwa Islam menganut prinsip jalan tengah dalam moderasi beragama (ummatan wasathan), yakni umat yang mampu menegakkan keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara ilmu dan amal, antara iman dan akal sehat.

Al-Kisah, suatu ketika ada tiga sahabat Rosululloh SWT bertekad beribadah dengan cara yang berlebihan, salah satunya tidak akan tidur malam, yang lain berpuasa terus-menerus, dan satu lagi tidak akan menikah. Melihat tekad dan cara ibadah yang berlebihan yang dilakukan para sahabat, Rosululloh SAW kemudian bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim,  “Demi Alloh, aku adalah orang yang paling takut kepada Alloh SWT di antara kalian, namun aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, dan aku juga menikah. Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku”. Lebih lanjut beliau bersabda, “Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan.” Saripati dari kisah dan hadits ini bisa kita petik sebuah teladan dari Baginda Rasululloh SAW yang menunjukkan bahwa, moderasi beragama adalah jalan sunnah, kesunahan menjaga keseimbangan antara ibadah dan kebutuhan hidup manusiawi sesuai dengan fitrahnya.

Berangkat dari uraian tersebut di atas, sebagai Penyuluh Agama yang moderat, peran kita adalah menyampaikan Islam dengan hikmah, kasih sayang, dan keteladanan, terutama di ruang digital. Media digital melalui akses media sosial hendaknya menjadi wasilah dakwah penuh akhlak, bukan ajang debat dan ujaran kebencian. Melihat dan mensikapi segala sesuatu melalui media sosial tidak lagi like and dislike yang dapat memposisikan Penyuluh Agama tanpa sadar terjebat pada pola pikir ekstrem dan memberikan bumbu komentar yang berat sebelah atau keberpihakan, yang justru memperkeruh suatu keadaan. Ibarat sumur, Penyuluh Agama adalah air yang menyegarkan semua mahluk, yang mampu memberikan pencerahan dan edukasi dari berbagai sudut ilmu pengetahuan dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Dan agar sumur tak habis airnya, maka belajar dan membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah suatu keniscayaan bagi Penyuluh Agama, semboyan uthlubul 'ilma minal mahdi ilal lakhdi harus tetap menyala untuk selamanya. Wallohu 'Aklam (MasBim). 

Disampaikan oleh Rusminah, S.Ag
Penyuluh Agama Islam Kecamatan Gombong


Written by ARCH

MIMBAR MUHASABAH : MAKNA BIAS SEMOGA SAMAWA

  Kebumen - MPK : Semoga samawa atau semoga menjadi keluarga samawa , ucapan ini sering kali kita dengar ketika teman atau saudara kita ...