Rabu, 05 November 2025

MIMBAR OPINI : PENYULUH AGAMA MODERAT DI ERA DIGITAL

 


Kebumen – MPK : Di tengah derasnya arus informasi digital, seorang Muslim dituntut untuk bijak, adil, dan moderat atau wasathiyah dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Moderasi beragama bukan berarti lemah dalam keyakinan, tetapi teguh di tengah dan adil di antara dua ekstrem : tidak berlebihan dan tidak pula meremehkan. Alloh SWT telah memberi isyarat pada kita dalam al Qur’an surat al Baqoroh ayat 143 yang artinya “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia.” Ayat ini menjadi landasan konsep bahwa Islam menganut prinsip jalan tengah dalam moderasi beragama (ummatan wasathan), yakni umat yang mampu menegakkan keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara ilmu dan amal, antara iman dan akal sehat.

Al-Kisah, suatu ketika ada tiga sahabat Rosululloh SWT bertekad beribadah dengan cara yang berlebihan, salah satunya tidak akan tidur malam, yang lain berpuasa terus-menerus, dan satu lagi tidak akan menikah. Melihat tekad dan cara ibadah yang berlebihan yang dilakukan para sahabat, Rosululloh SAW kemudian bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim,  “Demi Alloh, aku adalah orang yang paling takut kepada Alloh SWT di antara kalian, namun aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, dan aku juga menikah. Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku”. Lebih lanjut beliau bersabda, “Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan.” Saripati dari kisah dan hadits ini bisa kita petik sebuah teladan dari Baginda Rasululloh SAW yang menunjukkan bahwa, moderasi beragama adalah jalan sunnah, kesunahan menjaga keseimbangan antara ibadah dan kebutuhan hidup manusiawi sesuai dengan fitrahnya.

Berangkat dari uraian tersebut di atas, sebagai Penyuluh Agama yang moderat, peran kita adalah menyampaikan Islam dengan hikmah, kasih sayang, dan keteladanan, terutama di ruang digital. Media digital melalui akses media sosial hendaknya menjadi wasilah dakwah penuh akhlak, bukan ajang debat dan ujaran kebencian. Melihat dan mensikapi segala sesuatu melalui media sosial tidak lagi like and dislike yang dapat memposisikan Penyuluh Agama tanpa sadar terjebat pada pola pikir ekstrem dan memberikan bumbu komentar yang berat sebelah atau keberpihakan, yang justru memperkeruh suatu keadaan. Ibarat sumur, Penyuluh Agama adalah air yang menyegarkan semua mahluk, yang mampu memberikan pencerahan dan edukasi dari berbagai sudut ilmu pengetahuan dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Dan agar sumur tak habis airnya, maka belajar dan membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah suatu keniscayaan bagi Penyuluh Agama, semboyan uthlubul 'ilma minal mahdi ilal lakhdi harus tetap menyala untuk selamanya. Wallohu 'Aklam (MasBim). 

Disampaikan oleh Rusminah, S.Ag
Penyuluh Agama Islam Kecamatan Gombong


Written by ARCH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MIMBAR MUHASABAH : MAKNA BIAS SEMOGA SAMAWA

  Kebumen - MPK : Semoga samawa atau semoga menjadi keluarga samawa , ucapan ini sering kali kita dengar ketika teman atau saudara kita ...