Kebumen - MPK : Semoga samawa atau semoga menjadi keluarga samawa,
ucapan ini sering kali kita dengar ketika teman atau saudara kita baru saja
melangsungkan sebuah pernikahan. Ucapan semoga samawa mengandung maksud
sebuah untaian do’a untuk mempelai berdua semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa-rohmah.
Ucapan ini sudah begitu akrab di telinga kita sehingga seakan ucapan ini
benar adanya dan sesuai dengan kaidah agama. Padahal Rosululloh SAW tidak pernah
mengajarkan do’a seperti itu kepada umatnya, melainkan Rosululloh SAW mengajarkan ucapan
do’a pada umatnya untuk mempelai berdua barokallohu
laka wa baroka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khoir. Lalu apa sebenarnya sakinah,
mawaddah dan wa-rohmah itu, dan kenapa kita singkat dengan samawa
sebagai ucapan do’a ?.
Ungkapan kata sakinah, mawaddah wa-rohmah kita ketahui termaktub dalam al-Qur’an surat ar-Rum ayat 21. Namun sesungguhnya kata sakinah juga termaktub dalam surat al-Fath ayat 4, surat al-Baqoroh ayat 248, surat at-Taubah ayat 26 dan beberapa surat lain dalam al-Qur’an. Dari kata sakinah pada beberapa ayat tersebut mengisyaratkan bahwa sakinah adalah milik Alloh SWT, ciptaan dan pemberian Alloh SWT semata, bukan buatan rekodoyo manusia atau mahluk lainnya. Begitupun dalam surat ar-Rum ayat 21, dimana ayat ini diawali dengan kata kholaqo sebelum kata sakinah, yang mengandung maksud bahwa dipertemukannya jodoh atau pasangan manusia dari jenis manusia itu sendiri karena adanya rasa sakinah atau condong, tentram, ayem yang telah Alloh SWT ciptakan. Rasa sakinah atau condong, tentram, ayem ini kemudian Alloh SWT sematkan dalam hati kedua insan manusia, sehingga mereka saling condong satu sama lainnya sebagai pasangan yang telah Alloh SWT tentukan. Jadi ketika pasangan sampai ke pelaminan atau setelah terjadinya pernikahan, mereka sesungguhnya sudah dibekali rasa sakinah oleh Alloh SWT. Maka dari itu Rosululloh SAW mengajarkan do’a barokalloh untuk kedua mempelai yang berarti ziyadatul khoir atau tambah bertambah kebaikannya, tambah bertambah rasa condongnya, tambah bertambah rasa tentramnya dan tambah bertambah rasa ayemnya. Dengan kata lain, sakinah merupakan bibit pemberian dari Alloh SWT yang telah ditanamkan dalam hati kedua mempelai, maka tugas utama mempelai berdua adalah menumbuh kembangkan rasa sakinah itu seiring dengan berjalannya waktu.
Sedangkan kata mawaddah dan wa-rohmah dalam surat ar-Rum ayat
21 diawali dengan kata ja’ala, yang secara maknawiyah sama dengan
kholaqo yaitu artinya menjadikan. Namun perlu diketahui, bahwa penggunaan kata kholaqo
dilihat dari aspek penciptaan, menekankan otoritas dan kekuasaan Alloh SWT dalam menciptakan sesuatu yang baru. Dan hal ini menujukkan bahwa Alloh SWT tidak
membutuhkan bantuan siapapun dalam menciptakan sesuatu. Sedangkan penggunakan
kata ja’ala dilihat dari aspek penciptaan, menekankan keterlibatan
manusia dalam prosesnya atau hasil dari perubahan menjadi sesuatu yang baru. Kata ja’ala dalam ayat ini
menunjukkan bahwa Alloh SWT menciptakan suatu resep atau formula,
sedangkan yang mengelola menjadikan sesuatu yang baru tergantung pada usaha manusia
atau mempelai berdua. Sakinah akan tumbuh dan berkembang dengan mawaddah dan wa-rohmah yaitu sebuah resep atau formula yang telah Alloh SWT ciptakan untuk mempelai berdua, dalam usaha untuk menjaga dan menumbuh kembangkan rasa sakinah. Ibarat Alloh SWT menciptakan bodin lengkap dengan
unsur-unsur yang ada didalamnya adalah kholaqo, sedangkan dari unsur-unsur yang
terkandung di dalam bodin, manusia kemudian bisa menjadikan sesuatu yang baru, berupa gethuk, usel dan lain sebagainya, ini adalah ja’ala. Jadi rasa
sakinah yang telah Alloh SWT sematkan dalam hati kedua mempelai, agar tumbuh
subur dan berkembang dengan baik seiring dengan berjalannya waktu, Alloh SWT juga memberikan resep atau formula berupa mawaddah dan wa-rohmah sebagai pupuk untuk menumbuh kembangkan rasa sakinah itu sendiri, hal ini tentu tergantung dari usaha kedua mempelai dalam mewujudkannya. Wallohu ‘Aklam
Written by ARCH
Menyimak , terimakasih ilmunya pak haji
BalasHapus