Kebumen – MPK : Akhir-akhir ini sering kali kita dibuat perihatin menyaksikan bagaimana media digital dan pertelevisian yang ada di indonesia dimanfaatkan menjadi salah satu alat untuk menebar fitnah dan kebencian oleh segelintir oknum tertentu. Digitalisasi fitnah ini bahkan tak jarang masif ditujukan terhadap para tokoh nasional, tokoh agama, para kyai atau ulama dan pondok pesantren pada khususnya. Terbaru, kita tentu masih ingat bagaimana salah satu stasiun televisi di Indonesia menayangkan suatu program yang narasi ekspositorisnya cenderung merendahkan ketokohan seorang kyai atau ulama dan tradisi pondok pesantren di Indonesia. Potret yang mereka paparkan tentang kehidupan di pondok pesantren seolah-olah para kiai hidup dari ekploitasi santri-santrinya, kemudian hal ini mereka goreng agar menjadi opini publik dan dipandang sebagai simbol kemunduran dunia pendidikan di Indonesia. Yah, ibarat melukiskan seekor gajah yang mereka sendiri belum tahu pasti gambaran tentang gajah secara utuh, maka tentu sangat subyektif dan cenderung diskriminatif provokatif.
Para
kyai atau ulama adalah sosok panutan yang dihormati dan dimuliakan dalam
masyarakat kita dengan segala kharismatiknya, karena apa yang para kyai kerjakan
tentu berlandaskan pada ilmu, iman dan akhlak yang terpuji. Dedikasi para kyai atau ulama terhadap
pendidikan di Indonesia sangatlah luar biasa, bahkan bukan hanya sekedar mengajarkan
keilmuannya semata, akan tetapi juga sekaligus ekplementasi dari keilmuan itu
sendiri dalam perilaku santri sehari-harinya di lingkungan pondok pesantren. Para kyai atau ulama dalam hal ini bukan hanya mampu berperan
sebagai guru, akan tetapi sekaligus juga mampu berperan sebagai orang tua, abu ruh
atau abu din bagi santri-santrinya. Sehingga wajar jika perilaku
santri-santri di pondok pesantren sangat jauh berbeda dengan murid-murid pada umumnya di lembaga-lembaga pendidikan lain yang ada di Indonesia. Hubungan para kyai
dengan santri di pondok pesantren bukan sebatas guru dan murid, melainkan lebih
dari itu, yaitu hubungan orang tua dengan anak-anaknya. Dari sisilah sesungguhnya
nilai khas dari seorang kyai atau ulama di lingkungan pondok pesantren menjadi sangat istimewa,
dimana para kyai atau ulama mampu melakukan proses pendidikan transfer of knowledge and transfer of value
dengan sangat apik berjalan seiringan dan seirama.
Pendidikan dan prosesnya tidak cukup hanya sekedar transfer of knowledge atau proses perpindahan pengetahuan dari seorang guru pada murid-muridnya saja. akan tetapi pendidikan justru sangat membutuhkan transfer of value atau proses perpindahan nilai, ahlak, etika, norma dan hukum dari seorang guru atau pendidik pada murid-muridnya. Maka konsep “guru” digugu lan ditiru inilah yang sesungguhnya dan nyata-nyata masih bertahan dan dipertahankan dalam dunia pendidikan di pondok pesantren di Indonesia. Digugu artinya apa yang disampaikan dan diajarkan oleh seorang guru harus diyakini sebagai suatu kebenaran ilmiah sebagai syarat ilmu pengetahuan yang obyektif, sistematis, metodis dan universal, sedangkan ditiru artinya seorang guru harus mampu menjadi panutan dan suritauladan bagi murid-muridnya sebagai implementasi cerminan dari kedalaman ilmu pengetahuan itu sendiri, semakin berilmu semakin tawaduk sebagaimana padi semakin berisi semakin merunduk. Akhirnya, tak kenal maka tak sayang, mari kita kenali pondok pesantren kita agar kita bisa melihat potret sesungguhnya dari sistem pendidikan yang ada di pondok pesantren kita, dan mari kita jaga marwah para ulama dengan penuh ketadziman yang bersahaja.
Oleh : Kabul Khan ( Penyuluh Agama Islam Kecamatan Ayah ).
Written by ARCH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar