Kebumen - MPK : Kehidupan di era borderless world atau dunia tanpa sekat
memiliki efek positif dan juga efek negatif. Efek positif menjadikan manusia hidup
tanpa skat sehingga semakin mudah dalam menikmati berbagai kemudahan
fasilitas hidup, baik dibidang komunikasi, teknologi, ekonomi investasi bahkan
dunia ilmu pengetahuan. Adapun efek negatif hidup di era borderless world
ini menjadikan manusia rentan kehilangan dirinya sendiri, terjadinya pergeseran
nilai, kesenjangan sosial, munculnya sikap ketergantungan teknologi, munculnya
paham keananiahan dan pola hidup yang konsumtif hedonistik. Disamping
itu manusia menjadi sangat rentan terhadap gangguan kecemasan, depresi, stress,
thulul amal terhadap impian-impian duniawi yang tak berkesudahan dan semakin
jauh dari agama.
Keprihatinan terhadap keberlangsungan generasi Gen-Z di era borderless
world ini juga marak menjadi bahan diskusi disana sini. Saat ini, tak
jarang kita jumpai anak-anak kita saat ditanya cita-citanya apa, banyak yang menjawab
cita-citanya ingin menjadi youtober dengan subscriber terbanyak, selebgram,
tiktoker dan sederet profesi yang mereka anggap mudah untuk mendongkrak cuan
mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Hal ini menjadi salah satu indikator bahwa
masyarakat kita sangat mendewakan keviralan, like bejibun, banjir
follower, daripada pengakuan kerja nyata di sawah, di ladang dan di dunia
keilmuan dan teknologi. Mereka lebih nyaman sebagai penikmat dari teknologi daripada
penggagas atau bahkan pencipta dari teknologi itu sendiri. Cukup duduk manis di
dalam kamar seharian, mereka sudah mampu mengelilingi dunia maya dengan segala
impian yang memenuhi angan-angannya. Dari sinilah seyogyanya para pendakwah
atau penyuluh diharapkan mampu hadir mengambil peran dengan warna khusus yang menyejukkan dan menaburkan pencerahan secara online yang
konsisten, dengan harapan akan mampu mengisi kekosongan jiwa keagamaan bagi
mereka, generasi Gen-Z di era borderless world ini.
Retno Sri Suciyanti, yang akrab disapa “Eno” dengan dukungan para Penyuluh
Agama Islam di Kecamatan Pejagoan bergerak atas dasar panggilan jiwa dan keprihatinan
diri, Eno dan kawan-kawan mencoba mengembangkan program digitalisasi penyuluhan melalui media riyadhoh
online berbasis sosial media WhatsApp. Riyadhoh Online melalui sosial media WhatsApp mengajak masyarakat khususnya remaja putri
dan ibu-ibu rumah tangga untuk bergabung dan aktif di sosial media namun
tetap bernilai ibadah tanpa meninggalkan kewajiban rutinitas harian mereka. Setiap jama’ah yang tergabung dalam grup Riyadhoh Online
ini dikumpulkan dalam grup khusus sesuai dengan kepeminatannya atau dengan kata
lain terbagi sesuai dengan jenis dan kegiatanya, Riyadhoh Onlin Yasin
mewajibkan setiap jamaah untuk membaca surat yasin satu kali dalam sehari dan
wajib melaporkan melalui admin seperti yang telah dikembangkan oleh Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pejagoan, Riyadhoh Online Dzikir mewajibkan setiap
jamaah untuk membaca dzikir dalam jumlah tertentu dalam satu hari dan wajib
melaporkan melalui admin, begitu pun jenis penglompokan yang lain. Mari penyuluh terus bergerak dan berdampak, kehidupan di
era borderless world ini adalah
tantangan dan sekaligus ladang ibadah dakwah tanpa skat bagi kita semua. (mpk)
Oleh : Retno Sri Suciyanti, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pejagoan
Written by ARCH
Keren Bu lanjutkan perjuangan
BalasHapusterimakasih
BalasHapus